Hari itu, pertama kali aku melihatnya saat di pusat perbelanjaan. Berdiri di antara rak makanan, memilih dan mengambil serta mendorong troli dengan gamis merahnya, berkerudung satin. Di sampingnya, seorang wanita setengah baya dengan gamis krem berkerudung putih menemaninya. Dan yang pasti itu ibunya, tebakanku. Dengan wajah oval, kulit sawo manis, bibir yang senantiasa selalu tersenyum, dan mata hitam yang tampak menenangkan. Aku terpesona melihatnya.
‘Buk’
Hingga, seseorang menepuk bahuku, menyadarkanku.
“Hei, jangan ngelamun. Menghalangi jalan kau, Ka.”
“Iye lah. Udah belum ? Balik yuk.” Ajakku yang diangguki oleh temanku. Dan aku pun menoleh, namun gadis itu sudah tidak terlihat disana lagi. Aku hanya mengangkat bahu dan pergi.
2 tahun kemudian, aku melihatnya lagi. Berdiri di depan gerbang SMA 10 KARTINI, dengan seragam nya berkedurung putih, berdasi abu-abu, dan bersepatu hitam. Dengan menggendong tas hitamnya dia bersandar di tembok pagar sekolahnya, sambil membaca buku.
Tak lama kemudian, sorang lelaki bersepeda motor datang menghampirinya. ‘Pasti itu ayahnya’, pikirku. Ternyata dia menunggu jemputan dan tak lama sosoknya pun berlalu dengan motor beat biru yang menjemputnya.
“Oy!” aku terlonjak saat mendengarnya.
“Astagfirullah. Santai kali Bud. Rempong amat lu.”
“Yang rempong elu kali, Ka. Ini tugas udah selesai belum sih? Gantian gua juga mau ngerjain oy.” Sewotan temanku tak ku gubris. Daripada nanti kita jadi malah ribut gegara hal kecil, kan jadi kayak anak cewek, hehehe. Jangan kesinggung ya yang cewek, aku gak bermaksud kok. Suer dah.
Ok. Back to the topic.
“Udah dari tadi kali. Elu nya aja yang kagak tau kemana. Masih mending mau gua tungguin gih.” Sungutku padanya. “Hehehe,, iya dah Ka. Sorry. Ajarin ya Ka, ya. Elu pan baik.” Dan aku pun hanya bisa geleng-geleng dengan cengiran temanku ini. Selain ngeselin, dia itu orang yang baik dan penyayang, Cuma gayanya aja yang keliatan ugal-ugalan. Hahaha…
“Ya udah, sini makanya lu. Jangan ngilang mulu.” Yang hanya diangguki olehnya. Kami pun melanjutkan pekerjaan kami hingga selesai, setelah itu kami pun pulang ke rumah amsing-masing. Ya pastinya kan… ckckck
4 tahun kemudian, aku melihatnya di taman kampus. Hari itu, awalnya aku berniat untuk mengerjakan tugasku yang sudah mendekati deadline. Namun, kuurungkan setelah melihatnya karena semua serasa kabur selain dari ketenangan dan kedamaian yang dibawa olehnya. Gadis cantik bergamis biru laut, berkerudung putih. Gaya yang simple namun menarik saat itu dipakai olehnya. Dan aku pun kembali terpesona.
“Hai. Boleh duduk sini ?” Dia menoleh kearahku. Sambil tersenyum, dia menjawab, “Silahkan.” Setelah melihat sekeliling, karena kursi di taman sudah penuh kecuali yang sedang ditempatinya.
Dan aku pun duduk di sampingnya untuk pertama kalinya, melihatnya dari dekat. Namun segera kupalingkan wajahku takut membuatnya merasa tak nyaman. Ditemani hening, dengan angin yang semilir dibawah naungan pohon beringin, aku merasa tenang, nyaman, dan tentram. Meskipun kami melakukan kegiatan masing-masing. Aku mengerjakan tugasku, dengan dia yang membaca novelnya. Tak lupa juga, sholawat yang diputar melalui handphonenya menemani waktu kami.
“Permisi, kak. Saya duluan ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Spontan aku menjawab salamnya diiringi senyum, serta menganggukkan kepalaku.
Dan hari itu, menjadi salah satu hari terindahku. Untuk pertama kalinya aku berbincang dengannya. Dengan seorang gadis cantik yang membuatku terpesona meski belum kuketahui namanya. Dan hal itu pula, yang membuatku terus tersenyum bahkan dalam tidurku malam itu. Indah nya…
Setelah aku berjuang dengan skripsi yang sungguh tebalnya itu, aku pun bisa menghela nafas lega karena akhirnya aku lulus, dan mendapat predikat S1. Yahhh meskipun bukan seorang lulusan yang cumclaude, namun yang penting bisa termasuk bagus dan pasti bisa untuk melamar pekerjaan. Hahaha…
Dan di hari kelulusan itu pula, aku melihatnya.Gadis manis berkerudung merah maroon, dengan gamisnya yang berwarna coklat kemerahan. Di acara wisuda ku itu pula, untuk kedua kalinya aku mendengar suaranya. Gadis berhijab itu membacakan ayat suci Al-Qur’an untuk mengiringi acara kelulusanku yang membuatku sangat bahagia entah mengapa. Padahal, dia membaca ayat suci itu untuk semua lulusan, bukan khusus untukku kan? Tak apalah, yang penting aku sungguh bahagia.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an itu penuh keheningan.Hanya suara gadis manis itu yang terdengar. Suara merdu yang menentramkan hati,hingga tak terasa air mataku bahkan menetes. Aku sungguh terpesona kembali, dan aku jatuh cinta padanya.
Di hari kelulusan itu, aku ditemani kedua orang tuaku. Dengan ibuku yang tersenyum manis dan ayahku yang terlihat tampan meskipun di usia paruh bayanya. Yaaa,,, bagiku ayahku yang tertampan, tentu setelah aku. Hahaha…
Aku memeluk orang tuaku. Aku bahagia bisa lulus dengan nilai yang bagus dan tak mengecewakan mereka yang senantiasa selalu mendukung setiap keputusanku, serta tak lupa membimbing dan mengingatkanku dikala aku melupakan kewajibanku. Kami mengambil foto bertiga, ya aku hanya anak tunggal. Karena itu, orang tuaku bisa sangat memperhatikanku, padahal kalau boleh jujur ya, aku sebenarnya agak kesepian sih, hehehe.
Aku mulai berkumpul dengan teman seangkatan dan sejurusan untuk berfoto bersama. Kami saling tertawa, tersenyum dan masih ada yang meneteskan air mata ternyata. Kami semua berbahagia hari itu, dan pastiakan merindukannya suatu saat nanti.
Tanpa sengaja, aku menoleh ke sebelah kananku, disamping dosen agamaku, dia, gadis manis itu sedang menatap kami dengan tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan kami sepertinya. Aku langsung menghampirinya.
“Assalamualaikum, pak. Mbak.”
“Walaikumussalam, Ka. Kak”
“Sudah lulus kamu, Ka. Jangan lupa sholat sama ngajinya di lancarkan lagi. Kalau udah sukses, jangan lupa sama saya juga.”Candanya yang kutanggapi dengan tawa.
“Emm,, Saya Raka Afnan. Boleh berkenalan, mbak ?” aku gugup sungguh.
“Farida Humaira. Bisa dipanggil Farida.” Jawabny asambil tersenyum. Dan di hari kelulusanku itulah, aku pertama kali mengetahui namanya. Nama yang akan kupatri dan kuingat. Nama gadis manis yang sudah membuatku terpesona berulang kali. Nama gadis manis yang senyumannya membuatku bahagia.Nama gadis manis yang ternyata sudah menempati hatiku dan bertahta disana. Dan kuakui, aku jatuh cinta lagi kepadanya. Gadis manis bergamis itu. Farida Humaira.
“Yah.” Panggilan dan tepukan lembut di bahuku menyadarkanku. Saat aku menoleh, berdiri di sampingku, seorang wanita cantik bergamis hijau daun, berkerudung merah maroon. Disertai senyum lembut yang membuat wajahnya semakin terlihat bersinar dan menghangatkan hatiku. Senyuman wanita itu kubalas senyum kembali disertai kecupan di dahinya.
“Mari makan. Anak-anak sudah sudah menunggu, dan harus segera di antar ke sekolah.” Pengingat lembut itu membuatku ingat bahwa sudah waktunya untuk anak-anak pergi ke sekolah dan aku pun harus berangkat ke kantor.
“Iya, bun. Bunda duluan saja, nanti ayah menyusul.” Wanita cantik itu pun pergi menemui anak-anak terlebih dahulu dan aku pun menyelesaikan acara pagiku.
Di sana. Di ruang makan. Seorang wanita cantik dan dua anak laki-laki sedang duduk. Wanita cantik itu, membenahi pakaian dan tampilan anak-anak yang masih berantakan.
Ya. Dia. Wanita cantik itu istriku. Istri yang sudah menemaniku selama 5 tahun ini. Dengan kedua anakku yang berusia 4 tahun.Wanita cantik pemilik hatiku. Dia orang yang lembut, sabar, dan penyayang. Aku mencintainya. Sungguh. Dan aku bahagia bisa hidup bersama dengannya. Gadis manis yang kupinang 3 tahun setelah kelulusanku itulah penyemangatku. Dia yang menjadikanku sebagai imam nya. Dia yang mencintaiku dan aku pun mencintainya.Farida Humaira. Istriku.
