Miss You

Rintik hujan membasahi bumi. Daun-daun bergemerisik nan melambai. Ranting basah mengetuk jendela kamar ku. Dengan sinar mentari yang masih bersembunyi di balik awan hitam. Tak terasa waktu pun telah terbuang. Sudah jauh melangkah namun tak bisa beranjak barang sejenak.

Hari ini, aku membatalkan semua jadwalku. Rapat pun bahkan kuundur atau meminta sekretaris dan asistenku yang menggantikanku. Yang pasti, hari ini adalah hari liburku.

Setelah mandi dan sarapan, menyelesaikan rutinitas pagi ku, aku langsung memanaskan motor ku. Motor metik berwarna merah hitam, yang sudah lama tak kusentuh itu akhirnya ku lap bersih agar terlihat mengkilap. Agak susah memang, karena sudah terlalu lama tidak di rawat.

Setelah ditemani hujan pagi ini, dengan gamis merah muda, kerudung hitam aku langsung menuju pusat perbelanjaan untuk membeli bahan bahan memasak pastinya. Karena hari ini adalah hari yang spesial menurut ku. Kubeli berbagai macam sayuran dan buah-buahan, serta daging dan ikan.

Setelah merasa lengkap, langsung aku pergi membawa motor matic ku ke arah perumahan di dekat pusat perbelanjaan. Yahh sebenarnya itu rumah ku dulu, tempatnya strategis untuk kemana mana, tapi menurut ku membuat sesak dan terlalu bising sekarang.

Rumah minimalis modern, meskipun sudah lama tak ku tempati namun tetap bersih terawat. Suasana nostalgia di rumah ini terasa membuat ku ingin meneteskan permataku agar dia bisa menghapus nya untukku. Uhhh aku mulai lagi.

Daripada nostalgia yang gak karuan,, aku pun langsung membawa barang belanjaan ku dan mulai memasak dengan besar. Sibuk kesabaran kemari, namun aku menikmati nya. Sungguh. Ini membuat ku merasa kembali ke masa itu, tapi aku tau waktu akan terus berjalan. Huh..

Siang ini, rumah minimalis ku penuh dengan orang, tidak seperti aku masuk pagi tadi yang hening. Suara tawa, bercengkrama, dan teriakan anak kecil mengisi rumah itu membuat nya terasa hangat.

“Bu” panggilan itu membuat ku menoleh, dan terlihatlah anak perempuan ku yang membawa bayi nya. Bayi yang baru berusia 5 bulan itu tertawa sedari tadi digoda oleh pamannya. Hahaha

“Kita makan siang dulu, Ra.”

“Aku sayang ibu.” Tiba tiba saja anak perempuan ku ini mengecup ku. Memang lucu tapi aku bahagia.

Yaaa… aku bahagia. Dengan anak dan cucuku, serta keponakanku yang berkumpul di rumah minimalis itu.

Yah, kami bahagia. Terimakasih telah menjadi kepala keluarga yang terbaik untuk kami. Terimakasih telah dengan sabar membimbing kami. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang, kecuali mengirim doa untukmu. Semoga kamu di tempatkan di sisi-Nya. Kami mencintai mu ya.

Salam hangat, your love😊

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close